Wednesday, 21 September 2016

takhrij hadis

BAB I
PENDAHULUAN

       I.            Latar Belakang
            Kegiatan takhrij al-hadis sangatlah penting bagi seorang peneliti hadis. Kegiatan takhrij al-hadis merupakan langkah awal dalam penelitian hadis, seoarang peneliti akan mengetahui asal-usul riwayat hadis yang diteliti, dari berbagai periwayat yang telah meriwayatkan hadis itu, dan ada atau tidaknya syahid dan muntabi dalam sanad bagi hadis yang ditelitinya.
    II.             Rumusan Masalah
                        1. Pengertian Tahrij al-Hadits           
2. Tujuan dan manfaat Takhrij al-Hadis
3. Metode Takhrij al-Hadis
4. Contoh Takhrij al-Hadis

















BAB II
PEMBAHASAN
1.       Pengertian Takhrij Al-hadis[1]
          Secara etimologis, kata takhrij berasal dari kata kharraja, yang berarti al-zuhur (tampak) dan al-buruz (jelas). Takhrij juga bisa berarti al-istinbat (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti) dan al-taujih (menerangkan).
          Adapun secara terminologis, takhrij adalah menunjukkan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, dimana hadis tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.
            Takhrij, menurut istilah ahli hadis, mempunyai beberapa pengertian, yaitu:
a.       Mengemukakan hadis kepada orang banyak dengan menyebutkan periwayatnya dengan sanad lengkap serta dengan penyebutan metode yang mereka tempuh.
b.      Ulama hadis mengemukakan erbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis atau berbagai kitab yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri atau para gurunya atau temannya atau orang lain dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab ataupun karya yang dijadikan sumber acuan.
c.       Menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai  kitab hadis yang disusun makharrijnya langsung.
d.      Mengemukakan hadis berdasarkan kitab tertentu dengan disertakan metode periwayatan dan sanadnya serta penjelasan keadaan para periwayatnya serta kualitas hadisnya.
e.       Mengemukakan letak asal suatu hadis dari sumbernya yang asli, yakni berbagai sumber kitab hadis dengan dikemukakan sanadnya secara lengkap untuk kemudian dilakukan penelitian terhadap kualitas hadis yang bersangkutan.
2.       Tujuan dan Manfaat Kegiatan takhrij al-hadis[2]
Berikut adalah tujuan utama dilakukan tahrîj al-hadîts:
a.       Untuk mengetahui asal usul riwayat hadis yang akan diteliti.
b.      Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti.
c.       Untuk mengetahui ada tidaknya syâhid dan mutabi’ pada sanad yang akan diteliti.
Adapun manfaat dari kegiatan takhrij al-hadis banyak sekali, diantaranya:
a.    Memperkenalkan sumber-sumber hadis, kitab-kitab asal dimana suatu hadis berada beserta ulama yang meriwayatkannya.
b.    Dapat menambah perbendaharaan sanad hadis melalui kitab-kitab yang menjadi rujukan.
c.    Dapat memperjelas keadaan sanad, dan dapat diketahui apakah status suatu riwayat termasuk dalam sahih, hasan, daif.
d.   Dapat memperjelas kualitas suatu hadis dengan banyaknya riwayat.
e.    Dapat diketahui pendapat para ulama seputar kualitas hadis.
f.     Dapat memperjelas periwayat hadis yang samar, dan lain-lain.
3.       Metode Dalam Melakukan Tahrij al-hadis[3]
Secara garis besar ada dua cara dalam melakukan takhrij al-hadis yaitu:
a.     Takhrij al-hadis dengan cara konvensional
Maksudnya adalah melakukan takhrij al-hadis dengan menggunakan kitab-kitab hadis atau dengan menggunakan kiitab-kitab kamus.
Ada lima metode yang bisa dipergunakan dalam kegiatan takhrij al-hadis secara konvensional. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan, meskipun tujuan akhir dari takhrij al-hadis tetaplah sama, yaitu menelusuri hadis dari sumbernya yang asli.
Adapun lima metode takhrij al-hadis tersebut adalah:
1)    Dengan mengetahui rawi hadis yang pertama
Dengan mengetahui rawi hadis yang pertama yakni sahabat, apabila hadis tersebut muttasil dan tabiin apabila hadis tersebut mursal. Dengan mengetahui nama raawi pertama atau sanad terakhir dari suatu hadis, lafadz matan secara lengkap disertai sanadnya dapat diketahui melalui penelusuran beberapa kitab. Urutan nama-nama sahabat didalam kitab-kitab musnad beraneka ragam. Ada yang berdasarkan urutan huruf hijaiyah, ada yang berdasarkan urutan waktu masuk Islamnya para sahabat, ada yang berdasarkan suku dan ada pula yang berdasarkan negeri asal sahabat dan sebagainya.
Beberapa kitab yang bisa dipakai sebagai rujukan dalam metode ini adalah:


                                                 I.            Kitab-kitab Musnad
Kitab musnad adalah kitab yang disusun pengarangnya berdasarkan nama-nama sahabat atau kitab yang menghimpun hadis-hadis sahabat.
Jumlah kitab-kitab musnad banyak sekali namun ada sepuluh yang sangat terkenal yaitu:
                                                                                  i.            Musnad Ahmad ibn Hanbal. Kitab ini terdiri dari 40.000 hadis dan memuat 904 sahabat. Adapun urutan nama sahabat tidak disusun secara alfabetis, tetapi berdasarkan: 10 orang shabat yang dijamin masuk surga.
                                                                                ii.            Musnad Abi Bakr Abd Allah ibn al-Zubair al-humaidi. Kitab ini berisi 13000 dan memuat 180 nama sahabat. Urutannya bukan secara alfabetis tetapi berdasarkan: khalifah empat, 10 orang yang dijamin masuk surga, yang lebih dulu masuk islam, ummahat al-muminin, sahabat-sahabat wanita serta orang-orang Ansar.
                                                                              iii.            Musnad Abi Dawud Sulaiman ibn Dawud al-tayalisi
                                                                              iv.            Musnad Abi ishaq Ibrahim ibn Nasr
                                                                                v.            Musnad Asad ibn Musa al-Umawi
                                                                              vi.            Musnad Yahya ibn Abd al-humaid al-hamani
                                                                            vii.            Musnad Abi Khaisamah Zuhair bin Harb
                                                                          viii.            Musnad Musaddad ibn Musarhad al-asadi al-basri
                                                                              ix.            Musnad Abi yala Ahmad ibn Ali al-musani al-mausili
                                                                                x.            Musnad Aid ibn Humaid
                                              II.            Kitab-kitab Mujam
Kitab mujam adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat, guru-gurunya, negaranya atau yang lain berdasarkan alfabet.
Diantara kitab mujam yang disusun berdasarkan nama sahabat adalah:
                                                                                 i.              Al-mujam al-Kabir karya Abu al-qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani (w. 360 H.)
                                                                               ii.              Al mujam al-Ausat Kabir karya Abu al-qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani (w. 360 H.)
                                                                             iii.              Al mujam al-sagir Kabir karya Abu al-qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani (w. 360 H.)
                                                                             iv.              Mujam al-Sahabah karya Ahmad ibn Ali ibn Lali al-Hamdani (w. 398 H.)
                                                                               v.              Mujam al-sahabah karya Abu Yala Ahmad ibn Ali al-Mausili (w. 308 H.)
                                                   III.    Kitab-kitab Atraf
kitab athraf adalah suatu jenis kitab hadist, dimana hadist-hadist yang dimuat hanyalah potongan-potongannya saja kemudian disertai dengan dengan sanad-sanadnya baik berdasarkan penelitian pengarang maupun dinisbahkan pada kitab-kitab tertentu. Sebahagian pengarang kitab jenis ini menyebutkan keseluruhann sanad dan sebahagian hanya menyebutkan kolektornya saja.
Berikut adalah kitab-kitab Atraf yang masyhur:
                                                                                 i.              Atraf al-sahihain karya Abu Mas ud Ibrahim ibn Muhammad al-Dimasyqi (w.410 H.)
                                                                               ii.              Atraf al-sahihain, karya Abu Muhammad Khalaf ibn Muhammad al-wasiti (w. 410 H.)
                                                                             iii.              Al-Asyraf ala Marifah al-Atraf karya Abu al-qasim Ali ibn al-Hasan yang terkenal dengan nama ibn asakir al-dimasyqi (w. 571 H.)
                                                                             iv.              Tuhfah al-Asyraf bi Marifah al-atraf karya abu al-Hajjaj Yusuf Abd al-Rahman al-Mazi (w. 840 H.)
                                                                               v.              Atraf al-Masanid al-Asyrah karya Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad al-Busairi (w. 840 H.)
                                                                             vi.              Ithaf al-Mahrah bi Atraf al-Asyrah karya Ahmad ibn Ali ibn Hajjar al-Aqalani (w. 852 H.)
                                                                           vii.              Zakhair al-mawaris fi al-Dilalah ala Mawadi al-Hadis karya Abd al-Ghani al-Nabilisi (w. 1143 H.)
Kelebihan dan kekurangan menggunakan metode ini.
            Kelebihan metode ini:
Ø  Dapat diketahui semua hadis yang diriwayatkan shabat tertentu dengan sanad dan matan-nya secara lengkap.
Ø  Ditemukannya bnayak jalan periwayatan untuk matan yang sama.
Ø  Memudahkan untuk menghafal dan mengingat hadis yang diriwayatkan sahabat tertentu.
Kekurangan metode ini:
Ø  Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menemukan sahabat tertentu dengan hadisnya (untuk kitab-kitab yang tidak disusun secara alfabetis).
Ø  Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk menemukan hadis tertentu dari seorang sahabat. Karena biasanya sahabat tidak hanya meriwayatkan satu atau dua hadis saja.
Ø  Bervariasinya kualitas hadis yang terkumpul, karena tanpa penyeleksian sehingga ada yang sahih, hasan dan daif.
2)    Dengan mengetahui lafadz awal suatu hadis
A.      Kitab-kitab yang diperlukan:
1)        Kitab-kitab yang memuat hadis-hadis yang masyhur di masyarakat antaralain:
                                                                            i.                   Al-Tazkirah fi al-Ahadis al-Musytahirah karya Badr al-Din Muhammad ibn Abd Allah al-Zarkasyi (w. 974 H.)
                                                                          ii.                   Al-Laali alMansuruh fi al-Ahadis al-Musytahirah karya Ibn Hajar al-asqalani (w. 852 H.)
                                                                        iii.                    Al-Maqasid al-Hasanah fi Bayan Kasir min al-ahadis al-musytahirah ala al-alsinah karya al-sakhawi (w. 902 H.)
                                                                        iv.                   Tamyiz al-Tayyib min al-Khabis fi ma Yadur ala Alsinah al-Nas min al-Hadis karya Abd al-Rahman ibn Ali ibn al-diba al-syaibani (w. 944 H.)
                                                                          v.                   Al-Durar al-Muntasirah fi al-Ahadis al-Musytahirah karya Jalal al-Din Abd al-Rahman al-suyufi (w. 911 h.)
2)      Kitab-kitab yang disusun brdasarkan alfabetis, antara lain:
                                                                               i.            Al-Jami al-Samus angir min Hadis al-Basyir al-Nazir karya Jalal al-Din Abd al-Rahman ibn Abi Bakr al-Suyufi (w. 911 H.)
                                                                             ii.            Al-Jami al-Kabir karya al-Suyuti (w. 911 H.)
                                                                           iii.            Al-Fath  al-Kabir fi damm al-Ziyadah ila al-Jami al-Sagir karya Yusuf al-Nabhani.
3)      Kamus yang disusun pengarangnya untuk kitab tertentu, diantaranya:
                                                                               i.            Untuk Sahih al-Bukhari, yaitu Hady al-Bari ila Tartib Ahadis al-Bukhari.
                                                                             ii.            Untuk Sahih Muslim, yitu Mujam al-Alfaz wa la Siyyama al-Garib minha.
                                                                           iii.            Untuk Sahihain, yaitu Miftah al-sahihain.
                                                                           iv.            Untuk al-Muwatta, yaitu Miftah al-Muwatta.
                                                                             v.            Untuk Sunan Ibn Majah, yaitu Miftah Sunan Ibn Majah.
                                                                           vi.            Untuk Tarikh al-Baghdadi, yaitu Miftah al-Tartib li Ahadis Tarikh al-Khatib.
Kelebihan dan kekurangan metode ini:
                         Dengan mengetahui satu lafdz awal matan, hadis tersebut dapat di telusuri sumber asli dari sanad dan matn-nya secara lengkap. Hanya saja kekurangannya adalah peneliti hadis masih harus bekerja  keras karena tidak dicantumkannya nomor bab ataupun halaman dari hadis tersebut pada kitab tertentu.
3)    Dengan mengetahui sebagian lafadz hadis, baik di awal, tengah maupun akhir matan-nya.
A.    Kitab-kitab yang diperlukan.
Refernsi yang paling representatif untuk metode ini yaitu kitab karya Arnold John Wensinck dengan judul al-mu jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawi, dengan penerjemah Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kitab ini merupakan kitab kamus dari 9 kitab hadis, yakni Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Darimi, al-Muwatta Imam Malik, dan Musnad Ahmad ibn Hanbal.
Untuk Musnad Ahmad (حم) hany disebutkan juz serta halamannya; Sahih Muslim (م) dan al-Muwatta (ط) nama bab dan nomor urut hadis, sedangkan sahih al-Bukhari (خ), susunan Abi Dawud (د), Susunan al-Tirmizi (ت), Sunan al-Nasai (ن) serta Sunan Ibn Majah (جه), Sunan al-Darimi (دى) disebutkan nama bab serta nomor urut babnya.
B.     Kelebihan dan Kekurangannya
Kelebihan dari metode ini adalah dengan menggunakan sebagian lafadznya saja (ism/fil) baik diawal tengah maupun diakhir matan, hadis dapat ditelusuri sumber aslinya dengan cepat, karena bersama kitab rujukan disertakan nama bab, nomor bab atau nomor hadis serta nomor juz dan halamnnya, Meetode ini juga amemudahkan untuk mencari hadis-hadis dengan sumbernya dalam matan yang sama atau hampir sama.
Adapun kekurangannya yaitu pemakaian metode ini harus mengetahui kata asal dari lafadz yang diketahui; hanya memuat hadis 9 saja sehingga bila lafadz hadis yang disebutkan tidak diambil dari kitab 9 itu, maka tidak akan dapat ditemukan, metode ini tidak dapat digunakan bila lafadz yang diketahui berupa huruf, ism dhamir, nama orang, atau kata kerja yang sering dipergunakan, serta metode ini tidak  secara langsung menunjukkan rawi awal hadis yang dimaksud.
4)    Dengan mengetahui tema hadis
A.    Kitab-kitab yang diperlukan
a)      Kitab-kitab Jawami, seperti:
1.      Al-Jami al-sahih, karya Abu Abd Allah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari.
2.        Al-Jami bain al-sahihain, karya ismail ibn Ahmad.
3.      Al-Jami al-Sahih, karya Imam Muslim.
4.      Al-Jami bain al-sahihain, karya Muhammad ibn Abi Nasr al-Humaidi.
b)      Kitab-kitab Mustakhraj, seperti:
1.      Mustakhraj Sahih al-Bukhari, karya al-Gitrifi.
2.      Mustakhraj Sahih Muslim, karya Abu Awanah al-isfirayani.
3.      Mustakhraj Sahihain, karya Abu Nuaim al-Asbihani.
c)      Kitab-kitab al-Majami, seperti:
1.      Al-Jam bain al-sahihain, karya al-sagani al-Hasan ibn Muhammad (w. 650 H.)
2.      Al-Jam bain al-Sahihain, karya Abu Abd Allah ibn Abi Nasr Futuh al-Humaidi (w. 488 H.)
3.      Al-Jam bain al-Usul al-Sittah, karya Ibn al-Asir (w. 606 H.)
d)     Kitab-kitab Mustadrakat, seperti:
1.      al-Mustadrak, karya al-Hakim (w. 405 H.)
2.      al-Mustadrak, karya Abu Zarr al-Harawi.
e)      Kitab-kitab Zawaid, seperti:
1.      Misbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majah, karya al-Busairi (w. 840 H.).
2.      Fawa’id al-Muntaqali Zawaid al-Baihaqi, karya al-Busairi (w. 840 H.).
3.        Ittihaf al-Saddah al-Mahrah al-Khairah bi Zawaid al-Masanid al-Asyrah, karya al-Busairi (w.840 H.).
f)       Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah
Jumlah kitab yang dijadikan rujukan ada empatbelas yaitu:
Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmuzi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibn Majah, Muwatta Malik, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad Abi dawud al-Tayalisi, Sunan al-Darimi, Musnad zaid Ibn Ali, Sirah ibn Hisyam, Magazi al-Waqidi dan Tabaqat Ibn Said.
B.     Kelebihan dan kekurangan metode ini
Kelebihan dari metode ini adalah banyaknya hadis yang ditemukan pada tema tertentu karena sumber yang dijadikan rujukan kitab ini cukup banyak , yakni 14 kitab.
Kekurangan dari metode ini adalah sulitnya menetukan suatu potongan matn hadis, karena besar kemungkinan adanya perbedaan persepsi antara penyusun kitab dan penelii hadis.
5.  Dengan mengamati secara mendalam keadaan Sanad dan Matan
          Metode ini dapat dilakukan dengan cara melihat petunjuk dari sanad, matn atau sanad dan matannya secara bersamaan. Petunjuk dari matn, misalnya adanya kerusakan makna hadis, menyelisihi al-Qura’an ataupun petunjuk bahwa hadis itu palsu ataupun yang lainnya. Adapun kitab-kitab yang bisa dijadikan rujukan adalah:
1.      Al-Maudu at al-sugra, karya Ali al-Qari (w. 1014 H.).
2.      Tanzih al-Syariah al-marfuah an al-Ahadis al-Syaniah al-Mauduah, karya al-kinani (w. 963 H.).
          Petunjuk yang lain dari matn yaitu bila diketahui matn hadis tersebut merupakan hadis qudsi. Kitab yang bisa dijadikan rujukan adalah:
1.      Misykah al-Anwar, karya Muhy al-Din Muhammad ibn Ali ibn Arabi al-Khatimi (w. 638 H.).
2.      Al-Ittihafat al-Saniyyah bi al-Ahadis al-Qudsiyyah, karya Abd al-Rauf al-Munawi (w. 1031 H.).
Petunjuk dari sanad yang rawinya meriwayatkan hadis dari anaknya, kitab yang dijadikan rujukan yaitu: Riwayah al-Aba ‘an al-Aba karya Abu Bakr Ahmad  ibn Ali al-Baghdadi. Keadaan sanad yang musalsal dengan kitab rujukan al-Musalsalah  al-Kubra karya al-Suyuti, adapun keadaan sanadnya mursal dengan kitab rujukan l-Marasil karya Abu Dawud al-sijistani dan krya al-Razi. Petunjuk dari sanad dan matn secara bersamaan, Kitab yang bisa dijadikan rujukan adalah:
1.      Ilal al-Hadis karya Ibn Abi Hatim al-Razi.
2.      Al-Asma al-Mubhamah fi al-Anba al-Muhkamah, karya al-Khatib al-Baghdadi.
3.      Al-Mustafad min Mubhamat al-Matn wa al-Isnad, karya Abu zurah Ahmad ibn Abd al-Rahim al-Iraqi.
Kelebihan dari metode ini adalah ditemukannya hadis yang dicari dalam kitab rujukan dengan danya penjelasan tambahan dari penyusunnya. Sedangkan kekurangannya adalah perlunya pengetahuan yang mendalam bagi peneliti hadis untuk mengetahui keadaan sanad dan matn sanad.
b.    Takhrij al-Hadis dengan perangkat komputer[4]
             Takhrij al-hadis dengan menelusuri dan membaca kitab-kitab hadis atau kamus sangat baik, namun memerlukan waktu cukup lama. Untuk mempercepat proses penelitian dan pencarian hadis secara cepat, jasa komputer dengan program Mausuah al-Hadis al-Syarif al-Kutub al-Tisah bisa digunakan. Program ini merupakan  software komputer yang tersimpan dalm compact disc read only (CD-ROM) yang diproduksi sakhr pada tahun 1991 edisi 1,2.
             Program ini memuat seluruh hadis yang terdapat didalam al-kutub al-tisah lengkap dengan sanad dan makananya. Program ini juga mengandung data-data tentang biografi, daftar guru dan murid, al-jarh wa al-tadil dari semua periwayat hadis yang ada didalam al-kutub al-tisah. Program ini juga dapat menampilkan skema sanad hadis baik satu jalur maupun semua skema jalur periwayatan.
             Ada delapan macam cara yang bisa digunakan dalam menelusuri hadis-hadis yang terdapat dalam al-kutub al-tisah. Yaitu:
1.      Memilih lafaz hadis yang dicari dari daftar lafaz.
2.      Mengetikkan salah satu lafaz dalam matn hadis.
3.      Berdasarkan tema kandungan hadis.
4.      Berdasarkan kitab dan bab sesuai dengan yang ada didalam kitab aslinya.
5.      Berdasarkan nomor urut hadis.
6.      Berdasarkan pada periwayatnya.
7.      Berdasarkan aspek tertentu dalam hadis
8.      Berdasarkan takhrij al-hadis.
4.     Contoh Kegiatan Takhrij al-Hadis[5]
Contoh I: hadis tentang “syafaat nabi saw bagi orang yang berdosa besar”, bunyi teks hadisnya adalah:
قاَلَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِمِنْ أُمَّتِي
“Rasulullah bersabda: syafaatku bagi orang-orang yang berdosa besar dari umatku”.

Setelah dilakukan kegiatan takhrij al-hadi, hadis di atas bersumber dari:
1.   Al-Tirmizi, kitab Sifah al-Qiyamah wa al-Raqaiq wa al-Wara an Rasulillah, no hadis. 2360 dan 2359:
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِ

Telah menceritakan kepada kami Al-Abbas Al-Ambari telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Tsabit dari Anas berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Syafaatku untuk pemilik dosa-dosa besar dari ummatku”. Berkata Abu Isa, hadis ini hasan shahih gharib melalui sanad ini dan dalam hal ini ada hadis serupa dari Jabir.
(HR. Al-Tarmizi: No. 2360).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ فَقَالَ لِي جَابِرٌ يَا مُحَمَّدُ مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ فَمَا لَهُ وَلِلشَّفَاعَةِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ يُسْتَغْرَبُ مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani dari Ja’far bin Muhammad dari Bapaknya dari Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah SAW bersabda: “syafaatku untuk ummat ku yang berbuat dosa-dosa besar”. Muhammad bin Ali berkata: kemudian Jabir berkata kepadaku: wahai Muhammad yang tidak melakukan dosa besar tidak lagi membutuhkan syafaat Abu Isa Berkata, hadis ini hasan gahrib dari jalur sanad ini dan dianggap gharib dari hadis Ja’far bin Muhammad. 
2.      Ibn Majah, kitab al-Zuhd, no. hadis 3112
حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم الدمشقي . ثنا الوليد بن مسلم . ثنا زهير بن محمد عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( إن شفاعتييوءم القيامة لأهل الكبائر من أمتي ) . قال الشيخ الألباني : صح
Abdul Rahman bin Ibrahim Damaskus. Sunan Walid bin Muslim. Tna Zuhairbin Mohammed Jaafar bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir berkata:mendengar Rasulullah dan saw mengatakan: sesungguhnya syafa’atku pada hari kiamat adalah untuk para pelaku dosa besar dari ummat ku. Syaikh al-Albanimengatakan: Hadis ini Shahih
3.      Abu Dawud, kitab al-Sunnah, no. hadis 4739.
حدثنا سليمان بن حرب ثنا بسطام بن حريث عن أشعث الحداني عن أنس بن مالك : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال " شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي " .قال الشيخ الألباني : صحيح
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepada kami Bastham bin Huraits dari Asy’ats Al Huddani dari Anas bin Malik dari Nabi SAW, beliau bersabda: “syafaatku berlaku” untuk pelaku dosa besar dari ummat ku. Berkata Syaikh Al-Bani, hadis ini shahih.



4.      Ahmad ibn hanbal, bab Baqi Musnad al-Muksiri, no. hadis 13245.
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سليمان بن حرب ثنا بسطام بن حريث عن أشعث الحراني عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, telah menceritakan kepada kami Bistham bin Huraits, dari Asy'asy Al-Harrani, dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Syafaatku adalah untuk pelaku dosa besar dari umatku". Syaikh Arna’oot mengatakan hadis ini sanadnya Shahih.
 Contoh II: Hadis tentang menuntut ilmu.
عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله ص س. طلب العلم فريضة على كل مسلم وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب (رواه ابن ماجه)
Setelah dilakukan kegiatan takhrij al-hadi, hadis di atas bersumber dari:
1.      Kitab Ibnu Majah, Juz 1, halaman. 260
2.      Kitab At-Thobari, Juz 1 halaman 12, Juz 5 halaman 41, Juz 64 halaman 5, Juz 13 halaman 6.
3.     Kitab Abu Hanifah, Juz 3, halaman. 454
4.      Shahih Tarhib wa Tarhib, Juz. 1, halaman. 13.
















BAB III
PENUTUP

III. SIMPULAN
Kata takhrij  ( (تخريجadalah bentuk mashdar dari (خرّج-يخرّج-تخريجا) yang secara bahasa berarti mengeluarkan sesuatu dari tempatnya.Sedangkan yang dimaksud takhrij dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian hadits lebih lanjut, maka takhrij berarti “penelusuran atau pencarian hadits pada berbagai kitab-kitab koleksi hadits sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang di dalam sumber tersebut dikemukakan secara lengkap matan dan matarantai sanad yang bersangkutan.
Faktor penyebab takhrij hadits adalah untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits, mengetahui dan mencatat seluruh periwayatan hadits, dan mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada matarantai sanad. Sedangkan metode-metode yang digunakan didalam takhrij hadits yaitu menurut lafaz pertama matan hadits, melalui kata-kata dalam matan hadits, melalui perawi hadits pertama, berdasarkan tema hadits, berdasarkanstatushadits.
Manfaat takhrij hadits itu sendiri adalah memberikan informasi apakah hadits itu termasuk hadits shahih, hasan ataupun dhaif, memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa hadits itu makbul (dapat diterima), dan menguatkan keyakinan bahwa hadits itu benar-benar berasal dari Rasulullah SAW.










DAFTAR PUSTAKA

Suryadi dan Suryadilaga, M.,Alfatih, Metodologi Penelitian Hadis, Yogyakarta: TH-Press, 2009
http://nasrikurnialloh.blogspot.co.id/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_3.html



[1] Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis, (Yogyakarta: TH-Press, 2009), h, 34-36.
[2] Ibid. h. 36-37
[3] Ibid. h. 38-48
[4] Ibid. h. 49-50
[5] http://nasrikurnialloh.blogspot.co.id/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_3.html

Database 2015 KMJS UIN W9